Apa pertanyaan yang harus diajukan untuk mengetahui kualifikasi pasangan kita ?

Cara orang menilai pasangan kita beda-beda. Ada yang dengan sering bersama-sama untuk bisa mengenal kesehariannya, ada yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan krusial, dan ada yang mencoba mendalami keluarganya untuk tahu bagaimana respon dia atas sesuatu. Saya tipe yang tidak begitu mengandalkan mengajukan pertanyaan, tapi membahas suatu topik untuk bisa tahu cara berpikirnya dan melihat bagaiman respon dia atas sesuatu. Tapi, saya bisa rangkum yang biasa saya amati, dan pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan oleh teman-teman saya ke calon pasangannya.

  1. Apa makna komitmen buat kamu?
  2. Apa makna pernikahan buat kamu (kalau menikah)?
  3. Kalau saya (laki-laki) gak bisa memenuhi kebutuhan (finansial) kamu (perempuan) gimana? — untuk melihat perempuan siap tidak menghadapi “badai” terutama masalah finansial bersama
  4. Kalau keuangan keluarga lagi goyah atau kamu (laki-laki) di PHK, apakah kamu (laki-laki), punya skill lain untuk bisa cari kerja tambahan? — untuk melihat kerja keras dan tanggungjawab laki-laki, apakah tipe yang bisa bertahan atau malah lari dari tanggungjawan
  5. Kalau kita tidak bisa punya anak, apa yang akan kamu lakukan? — Kalau menikah lagi, ya itu terserah bagaimana kamu menilainya. Tapi kalau jawabannya: program hamil, program bayi tabung, adopsi anak, itu menandakan dia masih mau bertahan dengan komitmennya.
  6. Conditional dan sesuaikan dengan keadaan kamu. Misal: Kalau ayah saya sudahpensiun, dan sedangkan adik saya ada yang maish kuliah, mau gak kamu membantu sedikit keuangan mereka?

Itu beberapa contoh yang menurut saya perlu diketahui, mau itu ditanyakan langsung atau cari tahu sendiri (saya prefer cari tahu karena biasanya cowok gak suka ditanya-tanya). Jawabannya bisa jadi gak mutlak, karena ada aja cowok yang malas berandai-andai jadi jawabannya ngasal.

By, Meri Handayani

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: