Bahasa tubuh apa saja yang harus kita hindari saat sedang berbicara dengan orang lain?

Bayangkan kamu seseorang yang beruntung. Kamu telah mendapatkan pasangan yang kamu mau. Pasangan yang ideal. Dia sangaaaat sesuai tipemu. Kalian menikah. Kalian merasa nyambung. Tapi, pada saat malam pertama pernikahan, dia memilih memuaskan diri sendirian daripada menjalin hubungan denganmu. Bahkan setiap kali kamu mencoba menyentuhnya, dia malah lebih memilih menyentuh ‘barang’ yang lain.

Barang yang di matamu, jelas-jelas mati.

Kamu diabaikan.

Cobalah bayangkan perasaanmu kira-kira seperti akan apa.

Proses komunikasi juga kira-kira demikian. Suatu proses komunikasi ideal sama-sama memerlukan peran kedua belah pihak. Peran kedua belah pihak ini diperlukan untuk memastikan apa yang keluar dari satu pihak diterima secara baik oleh pihak lain, dan begitu pula sebaliknya.

Bahasa tubuh itu dibentuk oleh kondisi bawah sadar. Jadi, meski postur dan sikap tangan berperan, apa yang lebih memberi dampak sebenarnya adalah keadaan pikiran.

Dengan kata lain, mindset.

Tak perlu memikirkannya secara rumit. Kunci yang diperlukan untuk memperoleh kondisi pikiran yang tepat hanyalah sedikit rasa kepedulian.

Rasa kepedulian untuk memastikan apa yang lawan bicara sampaikan telah disampaikan dengan baik.

Saat rasa pedulimu itu sampai jatuh di bawah ambang tertentu, maka pada titik itu, secara bawah sadar, bahasa tubuhmu akan cenderung menjadi ofensif. Timbullah

By Anindito Alfaritsi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: